Pendahuluan
Kanker prostat adalah salah satu kanker yang paling sering ditemukan pada pria, terutama di negara-negara dengan tingkat harapan hidup yang tinggi. Meskipun kanker prostat sering berkembang secara perlahan dan banyak kasus tidak bergejala pada tahap awal, kanker ini tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO), kanker prostat berada di urutan kedua setelah kanker paru-paru sebagai penyebab kematian akibat kanker pada pria. Artikel ini akan membahas epidemiologi, faktor risiko, gejala, diagnosis, staging, dan tatalaksana kanker prostat berdasarkan guideline terbaru.
Epidemiologi dan Faktor Risiko
Kanker prostat lebih sering ditemukan pada pria berusia 65 tahun ke atas. Meskipun dapat mempengaruhi pria di usia lebih muda, risiko kanker prostat meningkat seiring bertambahnya usia. Faktor genetik memainkan peran penting dalam predisposisi terhadap kanker prostat. Jika ada anggota keluarga yang pernah didiagnosis kanker prostat, terutama pada usia muda, maka risiko seseorang untuk mengembangkan penyakit ini lebih tinggi.
Selain faktor genetik, faktor lain yang berhubungan dengan kanker prostat antara lain:
- Ras: Pria Afrika-Amerika memiliki prevalensi dan mortalitas kanker prostat yang lebih tinggi dibandingkan ras lainnya.
- Diet: Pola makan yang tinggi lemak jenuh dan rendah serat dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker prostat.
- Faktor Hormonal: Kadar testosteron yang tinggi diyakini berperan dalam perkembangan kanker prostat.
Gejala Kanker Prostat
Pada banyak kasus, kanker prostat berkembang secara perlahan dan tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, banyak pria tidak menyadari bahwa mereka menderita kanker prostat hingga penyakitnya berkembang lebih lanjut. Gejala yang muncul pada kanker prostat sering kali terkait dengan saluran kemih dan bisa mencakup:
- Sulit atau nyeri saat buang air kecil
- Darah dalam urine atau air mani
- Penurunan kekuatan aliran urin
- Nyeri punggung bagian bawah, pinggul, atau pangkal paha
- Penurunan kemampuan ereksi atau disfungsi ereksi
Karena gejala kanker prostat mirip dengan gejala pembesaran prostat jinak (BPH) atau infeksi saluran kemih, penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis.
Diagnosis Kanker Prostat
Diagnosis kanker prostat melibatkan beberapa pemeriksaan, termasuk:
- Prostate-Specific Antigen (PSA): PSA adalah protein yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Kadar PSA yang tinggi bisa mengindikasikan kanker prostat, meskipun dapat juga ditemukan pada kondisi lain seperti pembesaran prostat jinak atau prostatitis.
- Digital Rectal Exam (DRE): Pemeriksaan fisik untuk meraba kelenjar prostat melalui rektum, dengan tujuan mendeteksi pembengkakan atau kerasnya bagian dari prostat yang mencurigakan kanker.
- Biopsi Prostat: Jika pemeriksaan PSA dan DRE menunjukkan adanya kelainan, biopsi prostat akan dilakukan untuk mengonfirmasi adanya sel kanker.
- Pencitraan: Prosedur seperti multiparametric MRI dan CT scan digunakan untuk menilai penyebaran kanker ke jaringan atau organ lain.
Staging Kanker Prostat
Staging atau penentuan stadium kanker prostat penting untuk menentukan rencana pengobatan. Staging kanker prostat didasarkan pada sistem TNM yang dikembangkan oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC). Berdasarkan sistem ini, kanker prostat dapat dikategorikan dalam beberapa stadium, yang meliputi:
- T1: Tumor tidak dapat teraba atau terlihat pada pencitraan, ditemukan hanya melalui biopsi.
- T2: Tumor terbatas pada prostat, dengan subkategori berdasarkan apakah tumor terbatas pada satu atau kedua sisi prostat.
- T3: Tumor telah meluas ke jaringan sekitar prostat, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lain.
- T4: Tumor telah melibatkan struktur lain di luar prostat, seperti kandung kemih atau rektum.
- N: Status kelenjar getah bening, apakah ada keterlibatan kelenjar getah bening regional.
- M: Penyebaran jauh, seperti ke tulang atau organ lain.
Tatalaksana Kanker Prostat
Pengobatan kanker prostat sangat tergantung pada stadium penyakit dan kondisi umum pasien. Beberapa pendekatan pengobatan yang umum digunakan adalah:
- Pemantauan Aktif
Pada pasien dengan kanker prostat stadium awal yang tidak menunjukkan gejala atau pertumbuhan yang cepat, pemantauan aktif dapat dilakukan. Pemantauan ini mencakup pemeriksaan rutin PSA, DRE, dan biopsi untuk mendeteksi tanda-tanda pertumbuhan kanker. - Prostatektomi Radikal
Pada kanker prostat stadium lokal yang terbatas pada prostat, pengobatan pilihan adalah prostatektomi radikal. Prosedur ini melibatkan pengangkatan seluruh prostat beserta kelenjar getah bening regional. Pembedahan dapat dilakukan melalui metode terbuka, laparoskopik, atau dengan robot (robot-assisted surgery). - Radioterapi
Radioterapi adalah pilihan pengobatan utama pada kanker prostat lokal, baik sebagai terapi utama atau setelah prostatektomi radikal untuk mengurangi risiko kekambuhan. Radioterapi juga digunakan pada kanker prostat yang telah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lainnya. - Terapi Hormon
Terapi hormon digunakan untuk menurunkan kadar testosteron, hormon yang mendukung pertumbuhan sel kanker prostat. Terapi ini sering digunakan pada kanker prostat stadium lanjut atau metastatik, baik sebagai terapi adjuvan setelah pembedahan atau radioterapi, atau sebagai pengobatan utama. - Kemoterapi
Pada kanker prostat metastatik atau pada pasien yang tidak merespons terapi hormon, kemoterapi dapat digunakan. Kemoterapi dapat membantu mengendalikan penyebaran kanker dan mengurangi gejala.
Prognosis dan Kualitas Hidup
Prognosis kanker prostat tergantung pada stadium saat diagnosis. Pada kanker prostat yang terlokalisasi, tingkat kelangsungan hidup lima tahun mencapai lebih dari 95%. Namun, pada kanker prostat yang telah metastasis ke organ lain, prognosisnya lebih buruk.
Kualitas hidup pasien yang menjalani pengobatan kanker prostat dapat dipengaruhi oleh efek samping dari terapi, seperti disfungsi ereksi, inkontinensia urine, dan kelelahan. Oleh karena itu, pendekatan yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan rehabilitasi seksual sangat penting untuk membantu pasien mengelola efek samping tersebut.
Informasi ini tidak memperhitungkan situasi medis individual masing-masing pasien. Tidak ada informasi yang dapat menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang kesehatan urologi Anda, silakan konsultasi ke dokter spesialis urologi terdekat.




