28.1 C
Indonesia
Thursday, April 2, 2026
spot_imgspot_imgspot_img

Silodosin: Obat untuk Perbaikan Gejala Berkemih pada Pembesaran Prostat Jinak

Obat Apakah Silodosin?

Silodosin adalah salah satu obat untuk mengurangi gejala berkemih akibat pembesaran prostat jinak (benign prostate hyperplasia/BPH). Silodosin termasuk golongan penghambat reseptor alfa 1 selektif (alpha receptor blocker). Penghambatan reseptor alfa dapat menyebabkan otot di prostat dan leher kandung kemih menjadi rileks, sehingga melebarkan saluran uretra daerah prostat dan melancarkan aliran keluar urin. Sediaan/nama dagang dari obat ini adalah Urief (tablet 4 mg).

Kapan Indikasi Penggunaan Silodosin?

Silodosin diindikasikan pada pasien pembesaran prostat jinak yang mengalami gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract symptoms/LUTS) ringan hingga sedang. Pasien akan dilakukan evaluasi gejala dengan menggunakan skor gejala prostat internasional (International Prostate Symptoms Score) sebelum pemberian obat ini maupun untuk evaluasi efektivitas obat ini. Obat ini juga diberikan untuk memfasilitasi pengeluaran batu pada pasien batu ureter.

Bagaimana Dosis dan Penggunaan Silodosin?

Dosis Silodosin yang direkomendasikan untuk dewasa adalah 4 mg, dua kali sehari. Sebaiknya Silodosin dikonsumsi bersama makanan atau setelah makan.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Menggunakan Silodosin?

Pasien penderita gangguan fungsi hati ataupun gangguan ginjal harus berhati-hsti dalam penggunaan obat ini. Pasien yang menggunakan obat anti hipertensi juga harus berhati-hati, terutama pada pasien tua karena berisiko terjadi hipotensi ortostatik terutama bila menggunakan/kombinasi obat golongan anti hipertensi lainnya. Pada pasien yang akan dilakukan operasi katarak sebaiknya mendiskusikan dengan dokter untuk pertimbangan penghentian obat Silodosin maupun obat penghambat reseptor alfa lainnya (risiko kesulitan saat operasi – floppy iris syndrome)

Bagaimana Cara Penyimpanan Obat Silodosin?

Silodosin sebaiknya disimpan pada suhu ruangan dan tidak terpapar cahaya matahari secara langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Apa Efek Samping yang Bisa Terjadi pada Penggunaan Silodosin?

Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan Silodosin adalah masuknya air mani ke dalam kandung kemih (ejakulasi retrograd), sehingga pasien merasa ejakulasi tapi tidak ada air mani/hanya sedikit ada air mani. Air mani akan keluar bersama kencing. Sebenarnya hal ini tidaklah berbahaya, namun pada beberapa pasien dapat menimbulkan depresi maupun rasa tidak percaya diri.

Beberapa efek samping lainnya yang bisa terjadi antara lain gangguan pencernaan, kesulitan tidur (insomnia), penurunan tekanan darah ketika beranjak dari duduk atau berbaring (hipotensi ortostatik) dan menimbulkan gejala pusing. Pasien juga bisa mengalami gejala hidung tersumbat saat menggunakan Silodosin. Reaksi alergi sangat jarang terjadi pada penggunaan Silodosin, namun bila ditemukan gejala alergi (kulit kemerahan, bentol, bengkak pada bibir dan kelopak mata, hingga paling berat gejala sesak), segera mencari pertolongan dokter/unit gawat darurat.

Demikian informasi praktis mengenai obat Silodosin. Bila ada pertanyaan lebih lanjut dapat mengontak kami melalui email atau komentar. Diskusikan permasalahan urologi dengan dokter spesialis urologi anda. Salam sehat.


Informasi ini tidak memperhitungkan situasi medis individual masing-masing pasien. Tidak ada informasi yang dapat menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang kesehatan urologi Anda, silakan konsultasi ke dokter spesialis urologi terdekat.
Udiyana Indradiputra
Udiyana Indradiputra
Dokter Spesialis Urologi di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Founder dan Content Creator situs urologis.com

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar anda
Tuliskan nama anda di sini

- Advertisement -spot_img

ARTIKEL POPULER