Apa itu TURP?
Reseksi prostat transuretra (Transurethral resection of prostate/TURP) adalah prosedur pengangkatan jaringan prostat yang menyumbat aliran urine melalui prosedur endourologi melalui/trans uretra sehingga tidak ada sayatan/luka luar. Pada pembedahan ini kelenjar prostat Pasien diangkat berbentuk potongan kecil untuk meringankan masalah saluran kencing akibat pembesaran prostat.
Kapan Indikasi Dilakukan TURP?
TURP dilakukan pada pasien dengan pembesaran prostat jinak (BPH) yang telah menimbulkan komplikasi baik komplikasi di saluran kemih (Batu Kandung Kemih, Infeksi saluran kemih berulang, refluks vesiko ureter yang menyebabkan gangguan fungsi ginjal, retensi urine berulang ataupun hematuria berulang), maupun di luar saluran kemih (efek samping mengedan pada saat BAK, misalnya hernia, hemorrhoid/wasir, dsb). Selain itu tindakan TURP dipertimbangkan pada pasien yang gagal percobaan pelepasan kateter (Trial Without Catheter/TWOC) setelah pemberian obat golongan alpha blocker (Tamsulosin atau Silodosin) selama seminggu.
Prosedur TURP
Sebelum operasi, ahli anestesi akan menilai metode anestesi mana yang terbaik untuk Pasien; bisa berupa anestesi umum (di mana Pasien akan tertidur) atau anestesi sebagian (Pasien tidak akan merasakan apa pun dari pinggang ke bawah).
- Operasi dilakukan saat Pasien berada di bawah pengaruh bius total, atau di bius sebagian.
- Setelah Pasien diperiksa apakah ada alergi atau tidak, Pasien akan diberikan antibiotik melalui suntikan untuk mencegah infeksi.
- Teropong/ Sistoskopi dilakukan untuk melihat uretra, prostat dan kandung kemih. Uretra adalah organ yang menyalurkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh Pasien. Prostat akan dievaluasi ukuran dan apakah terdapat โkissing/penempelan dari lobus kanan dan kiri prostatโ. Lalu dievaluasi pula kandung kemih untuk melihat ada tidaknya batu maupun tumor pada buli, selain untuk mengevaluasi dari kedua muara ureter.
- Dokter akan mereseksi atau “memotong” jaringan prostat sepotong demi sepotong menggunakan arus listrik dengan Resectoscope.
- Setiap perdarahan dihentikan dengan membakar dasar kerokan dengan arus listrik.
- Potongan prostat dikeluarkan dari kandung kemih Pasien dan dikirim untuk analisis patologi.
- Kateter kandung kemih dengan irigasi akan dimasukkan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah.
- Durasi prosedur bergantung pada ukuran prostat (biasanya 60 menit).
Aktivitas Setelah Operasi
Pasien biasanya menggunakan kateter dengan irigasi selama 48-72 jam untuk memastikan tidak terjadi perdarahan dan untuk membilas bekuan darah dari kandung kemih. Biasanya setelah hari ketiga pasien diperbolehkan pulang dengan atau tanpa kateter (bergantung kondisi masing-masing pasien). Pasien disarankan istirahat selama 1-2 minggu. Jangan melakukan aktivitas mengangkat berat, berkebun, bersepeda, dll. Karena akan meningkatkan tekanan pada perut dan kandung kemih dan dapat menyebabkan keluar darah dalam urin Pasien. Aktivitas seksual harus dihindari selama 2-3 minggu, atau hingga keluhan nyeri hilang.
Perawatan Kateter
Pasien akan menggunakan kateter setelah operasi dan akan dihubungkan ke cairan irigasi kandung kemih terus menerus untuk mencegah pembentukan gumpalan darah di kandung kemih. Kateter biasanya dilepas setelah 48 jam atau setelah urine bersih dan tanpa gumpalan darah. Setelah kateter dilepas dan Pasien bisa buang air kecil, Pasien akan bisa pulang ke rumah. Dalam beberapa kondisi pasien kateter mungkin perlu dipertahankan dan pulang dengan menggunakan kateter yang lalu dicoba pelepasan kateter 7-10 hari sesudahnya. Kateter harus selalu terfiksir di paha bagian atas dan jangan sampai tertekuk/terlipat terutama pada persambungan kateter. Antibiotik dan obat nyeri mungkin akan diberikan untuk mencegah infeksi dan meredakan rasa tidak.
Penting bagi Pasien untuk menggunakan sabun biasa dan air untuk mencuci penis Pasien setiap hari (atau lebih sering jika diperlukan). Pasien juga perlu mencuci kateter setiap hari dengan sabun mandi biasa dan air untuk menghindari infeksi. Hindari menggunakan bahan kimia lain untuk mencuci penis atau kateter Pasien. Pastikan agar kateter tidak tertarik yang dapat memicu perdarahan/hematuria pasca operasi.
Saat dipasang, kateter dapat menyebabkan beberapa gejala saluran kemih. Hal yang sering dirasakan seperti kandung kemih terasa penuh, meskipun sebenarnya kosong. Selain itu juga bisa menyebabkan nyeri kram di perut bagian bawah. Hal terpenting dari pemakaian kateter kandung kemih adalah memastikan kateter mengalirkan urin dengan baik dari kandung kemih. Jika tidak ada keluaran urin selama 30-60 menit, dan Pasien merasa penuh pada perut bawah dan rasa ingin kencing hebat, Pasien harus pergi ke UGD terdekat karena kateter Pasien mungkin tersumbat.
Darah Dalam Urin (Hematuria)
Pasien mungkin mengalami perdarahan sesekali dalam urin dengan atau tanpa gumpalan darah kecil. Apabila terjadi banyak pendarahan di mana terbentuk gumpalan darah besar pada kandung kemih dan menyebabkan tidak dapat BAK, segera menuju Unit Gawat Darurat untuk dilakukan evaluasi.
Buang Air Besar
Penting untuk menjaga BAB Pasien tetap teratur selama periode pasca operasi. Mengejan saat buang air besar bisa menyebabkan pendarahan. Bila ada kesulitan BAB, Pasien mungkin memerlukan pelunak feses untuk membantu buang air besar secara teratur.
Diet (Pola Makan)
Pasien dapat kembali ke diet normal Pasien segera setelah operasi. Pasien mungkin merasa mual dan mungkin muntah dalam 6-8 jam pertama setelah operasi. Ini biasanya karena efek pembiusan sebelumnya, dan akan segera hilang. Kami menyarankan hanya asupan cairan dan makanan ringan setelah operasi, lalu diet normal sesuai toleransi. Hindari minuman yang mengandung kafein karena dapat menyebabkan gejala iritasi kandung kemih.
Mengemudi
Mengemudi sebaiknya dihindari setelah operasi atau sampai Pasien tidak menggunakan obat penghilang nyeri (terutama yang menyebabkan mengantuk). Beristirahatlah setiap beberapa jam jika Pasien melakukan perjalanan yang diperpanjang. Keluar dari mobil Pasien dan berjalan-jalan sebentar.
Aktivitas Seksual
Sebaiknya aktivitas seksual dihindari selama 3-4 minggu pasca operasi dan dapat dilakukan saat Pasien merasa nyaman untuk melakukannya. Pembesaran prostat dan perawatannya jarang menyebabkan masalah seksual. Bahkan jika Pasien mengalami ejakulasi retrograde, orgasme seharusnya tetap dirasakan.
Proses Penyembuhan
Selama beberapa minggu pertama setelah operasi, Pasien mungkin memperhatikan bahwa urin Pasien keruh atau terdapat darah atau gumpalan darah dalam urin Pasien. Uretra pada prostat umumnya membutuhkan waktu 6 hingga 8 minggu untuk sembuh. Selama proses penyembuhan ini, kadang-kadang Pasien mungkin melihat “serpihan” jaringan atau potongan debris dalam urin Pasien diikuti dengan sejumlah kecil darah dalam urin Pasien. Gejala tersebut mungkin mulai membaik selama beberapa minggu pertama, tetapi mungkin perlu waktu hingga tiga bulan.
Gejala Kencing
Pasien mungkin mengalami gejala ingin kencing yang tak bisa ditahan (urgensi), sering kencing dan ketidaknyamanan saat kencing. Ini akan membaik dalam beberapa minggu setelah operasi. Jika gejala memberat seperti nyeri perut bagian bawah, sulit buang air kecil, demam atau pendarahan seperti yang dijelaskan di atas, segera menuju UGD terdekat.
Pengendalian Nyeri
Pasien dapat merasakan sedikit rasa sakit dari prosedur ini. Kebanyakan pasien tidak memerlukan obat pereda nyeri kuat saat pulang. Umumnya, Parasetamol atau obat antiradang akan cukup untuk mengendalikan ketidaknyamanan yang mungkin Pasien alami.
Komplikasi Tindakan TURP
Saat operasi berlangsung (Durante operasi): Perdarahan, Robekan kapsul prostat, cedera kandung kemih, Sindrom TUR (Gangguan elektrolit darah akibat banyaknya cairan yang masuk ke tubuh sehingga terjadi penurunan level natrium darah dan berakibat tanda yang mencakup Tekanan darah tinggi, denyut nadi rendah, penurunan kesadaran dan gelisah).
Setelah operasi (jangka pendek): BAK merah (hematuria) disertai gumpalan darah, retensi urin berulang, dan infeksi saluran kemih.
Setelah operasi (jangka panjang): Ejakulasi retrograde (semen/ejakulat/sperma masuk ke dalam buli sehingga terkesan tidak keluar cairan ejakulat saat ejakulasi), Inkontinensia (mengompol), penyempitan saluran uretra (striktur uretra).
Kapan Mencari Pertolongan Medis Darurat?
โข Perdarahan berwarna merah cerah pada urin atau disertai dengan gumpalan.
โข Menggigil atau demam lebih dari 38 derajat Celsius.
โข Ketidakmampuan buang air kecil selama lebih dari 4 jam jika Pasien tidak memiliki kateter
โข Merasa kandung kemih penuh yang tidak hilang setelah buang air kecil
โข Nyeri hebat yang tidak hilang dengan obat pereda nyeri
โข Tidak ada urine yang keluar dari kateter.
Demikian informasi praktis mengenai tindakan TURP. Bila ada pertanyaan lebih lanjut dapat mengontak kami melalui email atau komentar. Diskusikan permasalahan urologi dengan dokter spesialis urologi anda. Salam sehat.
Informasi ini tidak memperhitungkan situasi medis individual masing-masing pasien. Tidak ada informasi yang dapat menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang kesehatan urologi Anda, silakan hubungi dokter spesialis urologi terdekat




