21.8 C
Indonesia
Thursday, January 15, 2026
spot_imgspot_imgspot_img

Hipospadia: Lubang kencing tidak di ujung penis

Apa Itu Hypospadia?

Hypospadia adalah kelainan bawaan lahir pada bayi laki-laki, di mana lubang saluran kencing (uretra) tidak berada di ujung penis, tetapi berada di bagian bawah penis—bisa di batang, dekat skrotum, bahkan di perineum.

Kondisi ini terjadi saat janin belum berkembang sempurna di dalam kandungan, dan muara uretra gagal terbentuk pada posisi normal.


Seberapa Sering Terjadi?

Hypospadia termasuk kelainan bawaan yang cukup sering, terjadi pada sekitar 1 dari 200–300 kelahiran bayi laki-laki. Tingkat keparahannya berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat.


Ciri-ciri atau Gejala Hypospadia

Beberapa tanda yang bisa dikenali:

  • Lubang kencing berada di bawah penis, bukan di ujung
  • Bentuk penis tampak melengkung ke bawah (kondisi ini disebut chordee)
  • Aliran urin tidak lurus ke depan
  • Kulit di bagian atas penis tampak seperti “berkerudung” (dorsal hood prepuce)
  • Kesulitan saat kencing berdiri

Biasanya sudah bisa dikenali saat bayi lahir oleh tenaga kesehatan.


Apa Penyebabnya?

Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor yang diduga berperan:

  • Faktor genetik
  • Paparan hormon atau bahan kimia tertentu selama kehamilan
  • Riwayat keluarga dengan kelainan serupa
  • Usia ibu saat hamil dan kondisi lingkungan

Apa Saja Jenis Hypospadia?

Berdasarkan posisi lubang uretra, hypospadia dibagi menjadi:

  1. Distal (ringan) – Lubang uretra dekat ujung penis
  2. Midshaft – Lubang di tengah batang penis
  3. Proksimal (berat) – Lubang dekat skrotum atau perineum

Semakin jauh letaknya dari ujung penis, biasanya penanganannya lebih kompleks.


Apakah Harus Dioperasi?

Ya, operasi biasanya diperlukan, terutama untuk:

  • Mengarahkan aliran kencing normal (ke depan)
  • Meluruskan penis
  • Memungkinkan anak kencing berdiri dan fungsi seksual normal saat dewasa

Waktu ideal operasi adalah saat usia 6–18 bulan, karena secara psikologis anak belum sadar dan jaringan masih lentur.


Bagaimana Prosedur Operasinya?

Operasi hypospadia dilakukan oleh dokter urologi anak. Tujuannya:

  • Memindahkan uretra ke posisi normal (rekonstruksi)
  • Meluruskan penis jika ada kelengkungan
  • Memperbaiki bentuk penis agar tampak normal

Kadang dibutuhkan lebih dari satu operasi, tergantung keparahannya.


Apa Risiko dan Komplikasinya?

Meskipun umumnya aman, operasi tetap punya risiko seperti:

  • Fistula uretra (lubang kecil baru yang membuat urin keluar dari tempat lain)
  • Penyempitan uretra (striktur)
  • Infeksi
  • Perlu operasi ulang

Namun, dengan teknik modern, angka keberhasilan sangat tinggi.


Hal yang Perlu Diperhatikan Pascaoperasi

Setelah operasi:

  • Penis bisa tampak bengkak, itu normal dan akan berangsur membaik
  • Anak bisa memakai kateter sementara untuk kencing
  • Orang tua harus menjaga kebersihan area kemaluan
  • Kontrol rutin sangat penting untuk memantau hasil dan deteksi dini komplikasi

Kesimpulan

Hypospadia adalah kondisi yang bisa ditangani dengan baik lewat operasi. Dengan deteksi dini dan tindakan tepat, anak bisa tumbuh dengan fungsi kencing dan bentuk penis yang normal.

Bila bayi Anda mengalami tanda-tanda hypospadia, konsultasikan ke dokter spesialis urologi anak sedini mungkinagar penanganan bisa dilakukan secara optimal.


Informasi ini tidak memperhitungkan situasi medis individual masing-masing pasien. Tidak ada informasi yang dapat menggantikan pemeriksaan langsung dengan dokter.  Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang kesehatan urologi Anda, silakan konsultasi ke dokter spesialis urologi terdekat. 
Udiyana Indradiputra
Udiyana Indradiputra
Dokter Spesialis Urologi di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Founder dan Content Creator situs urologis.com

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Tuliskan komentar anda
Tuliskan nama anda di sini

- Advertisement -spot_img

ARTIKEL POPULER